Hai sahabat rimba, peekenalkan nama saya M. Zanuar Ramadhani. Sedangkan nama lapang saya adalah Raser NIA. 910280510-GG. Sesuai dengan judul diatas, saya akan membahas perihal OPA Ganendra Giri dari sudut pandang saya.
Untuk kalangan tertentu, gunung merupakan tempat istimewa yang patut untuk dikunjungi. Begitupun dengan saya, pendakian perdana saya adalah gunung penanggungan, itu dilakukan saat saya duduk dikelas 10. Sejak saat itulah saya menemukan bahwa mendaki gunung adalah kegiatan yang menyenangkan dan juga terlihat keren tentunya.
Hingga pada akhirnya saya memutuskan "nanti waktu kuliah saya harus ikut mapala" (Maklum sih, di SMA saya tidak ada sispala). Tujuan saya waktu itu ingin menambah kawan, pengalaman, dan jam terbang. Ketika saya diterima di polinema, yang terfikir dikepala saya hanya satu, apakah di kampus teknik seperti ini ada mapalanya?
Akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga. Setelah beberapa hari hati ini selalu harap-harap cemas. Akhirnya tenang sudah ketika saya mengetahui bahwa kampus ini memiliki organisasi mapala yang bernama OPA Ganendra Giri. Tanpa buang-buang waktu lagi, saya langsung mendaftarkan diri.
Singkat cerita, ketika saya telah menyelesaikan seluruh persaratan dan seleksi, akhirnya saya diterima menjadi anggota OPA Ganendra Giri. Disini saya dikenalkan dengan berbagai hal baru, seperti panjat tebing, susur goa, olahraga arus deras dan konservasi, yang tentunya kegiatan-kegiatan itu begitu awam untuk saya. Dalam hal ini, apa yang saya harapkan di awal ternyata tidak sesuai dengan apa yang saya peroleh. Benar, ternyata di organisasi ini saya mendapatkan lebih banyak dari tujuan awal saya hingga saya merasa sangat bersyukur.
Berbicara perihal petualangan, saya beberapa kali berpetualang dengan kakak-kakak yang tentunya lebih berpengalaman. Tentu saja hal itu juga menambah jam terbang dan pengalaman saya. Oh iya, sering saya jumpai beberapa manusia yang di tas punggungnya banyak sampah yang bergelantungan. Awalnya saya bodah amat, tapi semakin sering menjumpai akhirnya saya merasa risih juga. Menurut saya, penggiat alam yang seringkali menggantungkan botol air mineral atau sampah dari berkegiatan di tas gunung/carriernya adalah polusi visual. Selain tidak efektif dan tidak berestetika, hal tersebut juga mengganggu pergerakan ketika berjalan. Alih-alih demikian, akan lebih baik untuk digulung satu persatu kemudian dimasukkan kedalam tas. Peduli sampah tidak perlu dipamerkan! Serupa juga dengan penggiat yang sering kali membawa speaker aktif dan teriak-teriak ngga jelas saat di alam bebas, rasanya hal ini merupakan kelakuan tidak berfaedah. Pertama, menimbulkan polusi suara untuk fauna yang ada disekitar. Kedua, seringkali mengganggu penggiat lain yang sedang beristirahat.
Selain senja dan kopi, sedikit banyak saya mendapat ilmu-ilmu baru yang sangat bermanfaat. Bagaimana cara menejemen sebuah kegiatan dengan baik dan benar, bagaimana cara bertahan hidup di alam bebas jika dalam keadaan yang terdesak, dan masih banyak lagi ilmu-ilmu tentang kepecinta alaman. Seiring berjalannya waktu, saya semakin sadar bahwa disetiap kegiatan di alam bebas, selayaknya kita harus mematuhi etika-etika yang ada, tidak sekedar untuk kesenangan semata. Kita perlu tahu kebutuhan alam, kita perlu sadar bahwa alam adalah tempat yang sakral. Disisi lain, selain seputar alam, saya juga mendapat banyak hal di bidang kerohanian. Bagi saya, salah satu cara untuk mendekatkan diri pada sang Pencipta adalah dengan mencintai alam-Nya.
Saya jadi ingat ketika berada di puncak sebuah gunung, saya merenung sesuatu yang tampaknya sepele namun tak bisa disepelekan. Waktu itu saya ditemani sunyi dan secangkir kopi, pikiranku menjelajah ke beberapa permasalahan perihal hutan. Pembukaan lahan semakin menjadi-jadi, pengalih fungsian kawasan hutan secara besar-besaran. Pada akhirnya saya berfikir, hanya rimba tempat masyarakat hutan berpulang. Lalu tanyakan pada diri sendiri, apakah kita masih memiliki nurani? Menyaksikan penghancuran lingkungan bebas terjadi.
Di organisasi ini, selain perihal tentang alam, ada hal lain yang cukup unik tapi sangat saya banggakan. Karena di tempat ini kita semua berkeluarga. Itulah yang aku rasakan, aku merasa di sinilah keluarga ke 2 ku. Hal ini juga tidak aku temukan di organisasi lain dalam Polinema. Tidak kutemukan adanya senioritas di organisasi ini, yang ada hanya kakak yang dengan tulus mengajari adiknya. Bercanda bersama, merencanakan kegiatan bersama, sampai pada menjalankan kegiatan pun bersama, tapi tentunya dengan tanggung jawab yang berbeda sesuai dengan porsinya. Hal itu semakin saya sadari semenjak sudah menjadi kakak yang harus menuntun adiknya.
Saya kira cukuplah sedikit pengalaman tentang OPA Ganendra Giri. Semoga jaya selalu. Avig Nam Astu !!!
Hutan, tempat di mana uang kehilangan harganya, namun mampu menjadi pilar penyangga kehidupan sekitarnya. Semoga tetap lestari, dan semoga lekas sembuh untuk semesta yang semestinya lestari. ~ 510-GG







