Sajak | Tentang Keserakahan

Di tengah hamparan edelweiss

Di bawah naungan cantigi
Aku berteduh,
Menghindari teriknya mentari

Kusandarkan ranselku pada dahan gagah cantigi yang meliuk-liuk indah
Kubaringkan tubuhku pada hamparan ilalang yang tengah menari-nari

Angin gunung bertiup sepoi-sepoi
Menerbangkan sedikit peluhku
Menitipkan damai dalam setiap hembusan nafas
Sungguh sendu rasanya

Hijau sekelilingku
Biru menyelimutiku
Suara alam meninabobokanku
Tanpa asap kendaraan
Tanpa bangunan-bangunan tinggi

Adalah engkau,
Bagian bumi terindah
Dengan bukit-bukit hijau gagah yang selalu merampas penglihatanku

Tak mau diduakan
Hingga tak bisa kualihkan pandanganku
Membuatku semakin dekat dengan-Nya
Karena di setiap mataku terbuka selalu ada kata syukur menyertainya
Tentang semua keindahan dan kenikmatan yang selalu Ia limpahkan padaku

Namun,
kini semua itu tak lagi bisa kunikmati
Bahkan oleh semua orang yang berjalan di atas punggungmu dengan angkuh
Manusia dengan segala keserakahannya
Yang hanya bisa merusak tanpa turut menjaga

Kini kami sedang berperang
Melawan sesuatu yang tak terlihat namun mematikan
Lihatlah betapa Ia menyayangi engkau
Tak seperti kami yang hanya menjadi parasit
Dan mengeksploitasimu habis-habisan

Hingga Ia menunjukkan kebesaran-Nya untuk melindungimu
Agar kami merasakan betapa sakitnya engkau atas segala keserakahan saat kami diberi nikmat kesehatan

Kini saat nikmat itu ditarik-Nya,
kau sedikit membaik
Semoga ini menjadi pelajaran bagi kami
Para manusia serakah
Untuk lebih peduli dan saling menjaga
Karena bumi tak butuh manusia untuk bisa terus hidup
Panjang umur kepedulian

~ 910280503-GG