Departemen Caving adalah salah satu departemen sport (sebelumnya bertindak sebagai divisi) di OPA Ganendra Giri yang memanajemen berjalannya kegiatan divisi Caving. Anggota dari divisi Caving merupakan Anggota Biasa yang telah mengambil spesialisasi Caving. Kegiatan yang biasa dilakukan pada divisi Caving antara lain seperti latihan fisik/training center (TC), pemantapan materi, aplikasi materi pemetaan gua, aplikasi SRT (Single Rope Technique), explor gua, dan pemetaan gua.

Menelusuri Gua

Caving atau susur gua adalah salah satu kegiatan alam bebas yang aktivitasnya menelusuri alam di bawah tanah dalam keadaan gelap dan hanya menggunakan penerangan kecil. Tetapi bagi para caver (penggiat susur gua), hal ini menjadi sebuah tantangan tersendiri, di luar aktivitas mendaki gunung, arung jeram, maupun panjat tebing.

Setiap aktivitas penelusuran gua, tidak lepas dari keadaan gelap total. Justru keadaan seperti ini yang menjadi daya tarik bagi seorang caver. Petualangan di lorong gelap bawah tanah menghasilkan pengalaman tersendiri. Perasaan ingin tahu yang besar bercampur dengan perasaan cemas karena gelap total. Ada apa dalam kegelapan itu? Membahayakankah? Adakah kehidupan di sana? Pertanyaan lebih jauh, bagaimana lorong-lorong itu terbentuk? Pertanyaan yang kemudian timbul, lalu berkembang menjadi pengetahuan tentang gua dan aspeknya, termasuk misteri yang dikandungnya, yaitu“speleologi”. Ruang lingkup ilmu pengetahuan ini tidak hanya keadaan fisik alamaiahnya saja, tetapi juga potensinya; meliputi segi terbentuknya gua, bahan tambang, tata lingkungan, geologi gua, dan segi-segi alamiah lainnya.

Sejarah penelusuran gua dimulai di Eropa sekitar 200 tahun lalu. Eksplorasi pertama tercatat dalam sejarah adalah tanggal 15 Juli 1780, ketika Louis Marsalliers menuruni gua vertikal Fairies di Languedoc, Perancis. Kemudian pada tanggal 27 Juni 1888, seorang ahli hukum dari Paris bernama Eduard Alfred Martel mengikuti jejak Marssalliers. Penelusurannya kali ini direncanakan lebih matang dengan menggunakan peralatan lengkap seperti katrol, tangga gantung, dan perahu kanvas yang pada waktu itu baru diperkenalkan oleh orang-orang Amerika. Bahkan telephone yang baru diperkenalkan digunakan untuk komunikasi di dalam tanah. Usaha Martel ini dianggap sebagai revolusi di bidang penelusuran gua, sehingga ia disebut sebagai “Bapak Speleologi Modern”.

Prestasi Martel juga dibuktikan dalam hal memetakan gua yang merupakan kewajiban seorang penelusur gua ketika ia melakukan eksplorasi gua. Antara tahun 1888-1913, Martel telah banyak memetakan gua dalam setiap penelusurannya. Peta gua ini digunakan untuk kepentingan ilmiah dan untuk merekam kedalaman serta panjang gua-gua tersebut.

Ketika Perang Dunia II selesai, kegiatan penelusuran gua memunculkan kembali dua orang tokoh, yaitu Robert de Jolly dan Norman Casteret. De Jolly merupakan pembaharu di bidang peralatan peralatan penelusuran gua, seperti tangga gantung dari aluminium dan perahu kanvas yang lebih sempurna. Penemuan ini mejadi standar bagi para penelusur gua sampai 50 tahun kemudian. Sedangkan Casteret merupakan pioneer di bidang “cave diving”. Usahanya ini dilakukan pada tahun 1922, ketika Casteret pertama kali menyelami lorong-lorong yang penuh air di gua Montespan tanpa bantuan peralatan apa pun. Karangan-karangan Casteret seperti “My Cave” dan “Ten Years Under Ground” kemudian menjadi buku pegangan bagi para penggemar cave diving dan ahli speleologi.

Kebanyakan penelusur gua memulai kegiatannya sebagai pemanjat tebing, karena memang kegiatan yang dilakukan hampir serupa. Para pemanjat tebing pula yang memberi inspirasi bagi perkembangan penelusuran gua. French Alpine Club, sebuah perkumpulan pendaki gunung ternama di Eropa telah mengadakan ekspedisi bawah tanah, dan untuk pertama kalinya menggunakan tali sebagai pengganti tangga gantung. Kelompok ini pula yang mencipatakan rekor penurunan gua vertikal sedalam 608 m.

Sejarah penelusuran gua sejalan dengan sejarah penelitian gua (speleologi). Kedua kegiatan ini tak dapat dipisahkan satu dengan lainnya. Hal inilah yang dilakukan oleh Eduard Martel, Robert de Jolly, Norman Casteret, dan banyak lagi penelusur gua di dunia

Caving pun boleh dibilang cukup lama dikenal di Indonesia. Persisnya kegiatan ini sudah mulai marak pada tahun 1980-an, ketika Persatuan Speleologi dan Caving Indonesia (Specavina) dibentuk di Bogor dengan tokoh-tokohnya antara lain dr. Ko King Tjoen, Norman Edwin, Dr. Budi Hartono, dan Effendi Soleman. Mulai dari sinilah kegiatan yang jadi hobi baru kala itu menyebar, terutama di kampus-kampus.

Di awal-awal perkembangannya, perjalanan cabang caving ini agak terseok-seok karena yang perlu didalami bukan hanya keterampilan fisik saja, namun juga aspek ilmiahnya. Selain itu, peralatan yang dibutuhkan pun sulit dibeli. Ketika itu Specavina juga agak selektif dalam membagi ”ilmu” pada para peminat. Hanya mereka yang memiliki latar belakang keilmuan yang mumpuni atau yang menyukai pengetahuan tentang speleologi saja yang boleh bergabung. Specavina sebagai pelopor ketika itu sengaja lebih menonjolkan unsur ilmiahnya (speleologi) ketimbang ”olahraganya” (caving).