Departemen Rock Climbing adalah salah satu departemen sport (sebelumnya bertindak sebagai divisi) di OPA Ganendra Giri yang mengatur berjalannya kegiatan divisi Rock Climbing. Anggota dari divisi Rock Climbing merupakan Anggota Biasa yang telah mengambil spesialisasi Rock Climbing. Kegiatan yang biasa dilakukan pada divisi Rock Climbing antara lain seperti latihan fisik/training center (TC), pemantapan materi, wall climbing, safari wall climbing, bouldering, dan memanjat tebing.
Memanjat Tebing
Panjat tebing pertama kali dikenal di kawasan benua Eropa tepatnya di kawasan pegunungan Alpen sebelum perang Dunia I. Pada awal tahun 1910 di negara Austria mulai diperkenalkan penggunaan peralatan-peralatan yang digunakan untuk menunjang dalam kegiatan panjat tebing seperti carabiner (cincin kait) dan piton (paku tebing) yang pada saat itu masih terbuat dari besi baja.
Pada dasarnya Rock Climbing adalah bagian dari Mountaineering (kegiatan mendaki gunung, suatu perjalanan/petualangan ke tempat-tempat yang tinggi), hanya di sini kita menghadapi medan yang khusus. Dengan membedakan daerah atau medan yang dilalui, Mountaineering dapat dibagi menjadi Hill Walking, Rock Climbing, dan Ice/Snow Climbing. Hill Walking (Hiking) merupakan perjalanan biasa melewati serangkaian hutan dan perbukitan dengan berbekal pengetahuan peta/kompas dan survival. Kekuatan kaki menjadi faktor utama suksesnya suatu perjalanan hiking. Untuk Rock Climbing, medan yang dihadapi berupa perbukitan atau tebing di mana sudah diperlukan bantuan tangan untuk menjaga keseimbangan tubuh atau untuk menambah ketinggian. Pada umumnya panjat tebing dilakukan pada daerah yang berkontur batuan tebing dengan sudut kemiringan mencapai lebih dari 45o dan mempunyai tingkat kesulitan tertentu. Penambahan ketinggian dilakukan dengan memanfaatkan cacat batuan maupun rekahan/celah yang terdapat di tebing tersebut serta pemanfaatan peralatan yang efektif dan efisien untuk mencapai puncak pemanjatan. Ice/Snow Climbing hampir sama seperti halnya dengan Rock Climbing, namun medan yang dihadapi adalah perbukitan atau tebing es/salju. Baik Rock Climbing maupun Ice/Snow Climbing mengutamakan kelenturan, kekuatan/daya tahan tubuh, kecerdikan, kerja sama team, serta ketrampilan dan pengalaman setiap individu untuk menyiasati tebing batu atau es.
Awalnya Rock Climbing murni dilakukan di media tebing-tebing alam, namun pada perkembangan selanjutnya berangsur-angsur mulai dipopulerkan untuk umum. Karena itu mulai dipikirkan untuk melakukan kegiatan ini di tebing-tebing buatan, bahkan di dalam ruangan. Perkembangan inilah yang akhirnya melahirkan wall climbing (panjat dinding) yang kini banyak diperlombakan.