Sore yang cukup melelahkan, kupandangi awan sambil berjalan. Sekiranya hari ini matahari akan tenggelam dengan senja yang menawan, tibalah aku didepan persinggahan. Kulihat beberapa orang sudah berkerumun di depan dinding kayu sebelah gedung aktivis[1]. Sorakan, teriakan, hingga ejekan sepertinya memang tepat mendramatisir cerita rivalitas para pemanjat tebing.
Selain itu ada juga yang berperan sebagai dewan dan guru pengajar privat bagi anak didiknya. Tak ingin ketinggalan, beberapa manusia biasa juga mengisi soundtrack cerita ini dengan lagu-lagu karya bang Iwan, ditemani kopi hitam bergulakan cinta buatan mereka yang sadar kemanusiaan. Sore dengan pemandangan yang mengagumkan, tarian-tarian itu seolah menjadi obat pelipur lara atas penyakit yang timbul akibat doktrin perkuliahan.
Tahun ini sudah 2017. Aku berdiri tepat di depan dinding pemanjatan mengamati kondisi rangka dan papan. Belum sempat melakukan pemanasan, tiba-tiba pengelihatanku buram dan melayang jauh ke belakang. Akupun terpejam. Setelah kubuka mata tiba-tiba aku berada di tempat yang belum pernah kulihat sebelumnya. Orang-orang dengan rambut gondrong, berkaos oblong, dan celana jeans sobek-sobek memenuhi pandangan.
“Apakah mereka mahasiswa? Dari kampus mana?” tanyaku dalam besit pikiran. Aku memberanikan diri untuk mendekati dan berkenalan dengan salah satu dari mereka. Mungkin beberapa kata dapat sedikit memberikan jawaban di mana posisiku sebenarnya. Aku terus berjalan sambil mengamati sekitar. Tiba-tiba dari belakangku pemuda gondrong tipis menepuk pundakku. Jika dilihat dari perawakannya, kira-kira dia seorang mahasiswa tingkat akhir.
“ Jomp[2]..!!!” begitulah dia sapa diriku. Aku terkejut sekali, jangan-jangan...
“Iyo aku Boboat Angkatan 1999, ayo melok aku,” kata dia memotong dugaanku yang belum selesai, terlontar dengan bahasa Jawa logat khas daerang Malang. Setelah itu sambil berjalan menuju orang-orang yang aku lihat sebelumnya, dia bercerita dan semakin meyakinkanku bahwa aku sedang berada jauh ke belakang, tahun 2003 di kampus lama Politeknik Negeri Malang, Jalan Veteran.
Mas boboat menemani diriku untuk berkenalan dengan mereka, ternyata mereka adalah anggota Ganendra Giri generasi 10 sampai 13 yang tidak aku kenali sebelumnya. Mungkin yang aku kenali hanya Mas Glendem versi muda dengan ciri khas rambut gondrong sebahu dan anggota perempuan dengan NIA kebanggaan DjiSamSoe[3] 910110234-GG. Nampaknya mereka sedang mempersiapkan proyek pembangunan papan boulder[4]. Aku diajak menuju gedung Teknik Sipil untuk mengambil beberapa bongkahan kayu yang akan dialihfungsikan menjadi frame[5] papan boulder.
Aku coba mengambil satu batang kayu, namun Mas Boboat melarangnya, “Sudah! tugasmu hanya melihat!” dia coba memberikan pengertian yang aku jawab dengan anggukan. Setelah itu, semuanya langsung bekerja untuk menyelesaikan proyek ini.
Papan yang digunakan adalah papan sisa wall climbing[6] lama yang sudah direnovasi ulang. Meraka berusaha menyelesaikan frame terlebih dahulu, kemudian memasang satu persatu dari keempat papan. Aku lihat salah satu anggota yang sepertinya bertugas sebagai koordinator, yaitu Mas Togog, sibuk mengkoordinir tiap-tiap anggota yang bekerja. Dia juga meminta kepada para wanita-wanita Ganendra Giri untuk membuatkan kopi sebagai penyemangat kerja. Seperti intruksi sebelumnya, di sini aku hanya diam berdiri menyaksikan mereka, bahkan lupa untuk sekedar mencicipi hidangannya.
“Crek, crek, crek...” suara pengencangan baut terakhir dengan kunci pas ukuran 14 menandakan pembangunan boulder sederhana berbentuk overhang[7], dengan kemiringan sekitar 15 derajat, tinggi 3 meter, dan luas 6 meter persegi selesai.
“Ketika sahabat pindah ketempat lain maka sebagian sejarah hidup kita pergi bersamanya” -- Nita Trismaya
Kegembiraan sangat terpancar jelas di raut wajah mereka. Satu di antaranya bersemangat memasang point[8] yang dipindahkan dari wall climbing untuk segera dicoba. Semua bersemangat latihan. Mungkin inilah bentuk apresiasi dari terciptanya karya baru bagi organisasi tercinta. Tak ingin melewatkan keseruan ini, dengan hanya menjadi penikmat visual, aku mulai melakukan pemanasan. Aku mengawalinya dengan berlari mengelilingi sekretariat[9], pikirku cukup dengan lima kali putaran.
Di putaran ketiga, lagi-lagi aku dibuat tercengang. Papan boulder yang sudah dibangun, tiba-tiba lenyap dari pandangan, bersama orang-orang yang menikmatinya. Aku hanya melihat Mas Boboat dengan perawakan yang sedikit menua sedang menungguku.
“Loh cak?” belum sempat aku bertanya, dia sudah mengajakku ke kampus baru di Jalan Soekarno-Hatta. Tanpa banyak tanya lagi, aku ikuti saja. Kami berdua berjalan kaki menyeberangi jembatan Soekarno-Hatta.
Pikirku aku sudah kembali ke zaman semula, ternyata tidak. Tidak ada Graha Polinema, Gedung Sipil, dan Wall Climbing. Semua Gedung kuliah masih tampak baru. Kami tiba di samping sekretariat. Dan benar saja, tidak ada Para-para, dan rangka boulder masih tertata rapi. Sepertinya saat ini aku sedang berada di tahun 2013, karena aku pernah mendengar tahun ini adalah masa transisi perpindahan OPA Ganendra Giri ke kampus baru.
Rasa-rasanya ini masih pagi. Kulihati matahari berada di sudut 70 derajat sebelah timur. Sinarnya tajam membuat bumi kepanasan. Tiupan angin seolah dikirim Tuhan sebagai penyegar suasana, dan atap-atap gedung yang menjorok keluar berperan sebagai benteng peneduh bagi hamba-Nya yang menjalani kehidupan. Tak ada sedikitpun alasan untuk tidak bersyukut atas keadaan. Satu persatu orang-orang berdatangan sambil bersalaman dan tersenyum dengan raut wajah yang nampak tak asing lagi bagiku. Aku tampak terhibur dengan wajah muda seniorku generasi 22 dan 23 yang tak segarang saat aku mengenalnya, dan sepertinya hanya mas Cireng yang tak berubah sedikitpun.
Para lelaki mulai mengangkat satu-persatu besi yang sebelumnya ditata rapi sesuai intruksi. Ada yang berbeda kali ini. Frame yang digunakan diperbarui dengan menggunakan besi profil L, namun tetap menggunakan 4 papan yang lama. Selagi menyaksikan mereka bekerja, aku rasakan ada bayangan dari belakang yang mendekatiku.
“Woy... ngelamun ae rek!!! Ayo ndang jalure wes dadi!!!” Mas Cireng menyadarkanku. Aku terjaga dan membuka mata, ternyata aku sudah kembali ke suasana sebelumnya, di tengah-tengah climber yang sedang menikmati latihannya.
“Yang tadi apa ya? Ah sudahlah, mungkin kebetulan aku sedang mengkhayal...” gumanku.
Aku melanjutkan latihan. Satu, dua, tiga jalur dapat terselesaikan. Cukup melelahkan untuk hari ini, mulai masuk pada khayalan pengembara waktu sejarah boulder tercipta, hingga bersenang-senang dengan jalur pemanjatan yang tersedia. Aku melakukan pelemasan dan pendinginan[10] karena kurasakan otot-ototku sudah kendor. Lagi pula rekan-rekan semua juga merasakan hal yang sama.
Bersih diri dan ganti pakaian sudah selesai, sekarang waktunya untuk bersantai menghabiskan malam di persinggahan para petualang yang dinamakan Para-para. Alunan musik dan kopi serta beberapa wejangan tentang organisasi, kemanusiaan, serta hidup dan mati, menjadi sajian lengkap malam ini. Aku jadi teringat tentang khayalan tadi sore sebelum latihan. Rasanya hal itu semakin menarik diriku untuk sekedar mengenal dan menelusuri sejarah berdirinya papan boulder. Jika dilihat memang dahulu sekretariat Ganendra Giri berada di kampus lama yang sekarang sudah diambil alih Universitas Brawijaya. Jadi, mulai tahun 2013 semua kegiatan keorganisasian Politeknik Negeri Malang yang tersisa di kampus lama, khususnya OPA Ganendra Giri, harus dipindahkan ke Kampus 2, Jl. Sukarno-Hatta Nomor 9. Hal yang terbesit pertama kali dalam pikiran adalah melanjutkan kisah sejarah hingga hari ini.
Pada tahun 2015 terdapat penambahan papan berbetuk roof[11]. Rasa bosan dan keinginan yang kuat untuk menciptakan tantangan-tantangan barulah yang mendasari hal ini. Namun papan roof tidak dapat bertahan kurang dari setahun karena kerusakan yang signifikan akibat guyuran hujan, hingga berakhir pada pembongkaran. Akhirnya Tahun 2017 dilakukan renovasi besar-besaran dengan penambahan papan di atas untuk menjadikan boulder ini lebih tinggi. Di sisi sebelah kiri juga ditambah papan baru berbentuk flat dan corner. Boulder inilah yang dinikmati sampai saat ini.
Tak lekang oleh waktu, dari lintas generasi, boulder ini setia menemani para pecintanya. Dari yang mengejar terget prestasi hingga yang berproses mempersiapkan keberangkatan untuk berpetualang menjelahahi tebing-tebing tinggi di Nusantara. Tidak hanya anggota Ganendra Giri, boulder ini seolah menjadi sahabat bagi semua climber di wilayah Malang. Mapala, mahasiswa, serta siswa SMP, SMA dan SD, semua diterima di sini untuk berproses melebihi batas kemampuan diri dari yang sebelumnya.
“Jika cinta sejati adalah cinta tanpa karena, maka dengan mengenal seluruhnya, kita dapat memilih untuk tetap mencintai sepenuh hati atau menghindar sebab tak kuat menerima kekurangan. Salam Lestari.”
0464-GG
Note :
[1] Aktivis: Anggota organisasi politik atau masa lainnya.
[2] Jomp: panggilan untuk penulis (Jompo).
[3] Dji Sam Soe: merek rokok dengan ciri khas angka 234.
[4] Boulder: dinding panjat buatan yang relative pendek, berfungsi melatih teknik.
[5] Frame: bahasa inggris (n) tiang penyanggah.
[6] Wall Climbing: dinding panjat buatan yang menyerupai tebing, jauh lebih tinggi dibandingkan boulder.
[7] Overhang: posisi kemiringan papan panjat lebih dari 15 derajat.
[8] Point: pegangan dan pijakan yang menempel pada papan pemanjatan.
[9] Sekretariat: kantor organisasi kemahasiswaan.
[10] Pendinginan: usaha merelaksasi tubuh selesai beraktivitas berat.
[11] Roof: posisi papan panjat horizontal menyerupai atap.








