Mendengar sebuah nama TN Halimun Salak tentu saja begitu banyak hal yang akan terbesit dalam pikiran kita, mulai dari cerita mitologi, kisah jatuhnya pesawat Hercules sampai dengan keindahan bentang alamnya. Tapi lebih dari itu, banyak hal yang mungkin sedikit terabaikan namun cukup berpengaruh keberadaannya. Dalam hal ini adalah sesuatu yang akan aku ceritakan, yakni satwa dan pepohonan.
Berbekal rasa kepedulian terhadap semesta, aku dan rekan-rekanku melangkahkan kaki menuju gunung yang pernah menjadi saksi bisu terjadinya insiden jatuhnya pesawat Hercules yang menelan ratusan jiwa. Dibalik cerita mistis yang beredar, aku memberanikan diri menelusuri kawasan tersebut dengan membawa misi konservasi. Beberapa harap terucap, bersamaan dengan cemas yang tersemat. Beriringan dengan langkah kaki yang beranjak, keduanya saling berebut kuasa dalam pikiran, sempat bimbang antara bertahan atau pulang. Namun aku sadar, bahwa impian dan harapan akan selalu hidup seperti tumbuhan.
Pada akhirnya aku dan rekan-rekanku menemukan sebuah kesimpulan: Di masa kini, banyak orang yang suka berkegiatan di alam bebas. Namun, banyak juga yang lupa akan kelestarian alammya. Didasari oleh kesadaran kita sebagai makhluk yang diamanahi Tuhan untuk menjaga kelestarian alam, seharusnya kita berkegiatan tanpa melupakan etika-etika untuk terus menjaga lingkungan.
Hal yang kecil bukan berarti tak bermakna, karena semua berawal dari hal yang sederhana. Jika kita mampu menata diri, suatu hari akan ada keajaiban yang istimewa. Konservasi berasal dari diri kita sendiri, konservasi bermula dari niat kita, dan konservasi adalah panggilan hati.
"Semoga segala hal buruk tidak menghambat kita untuk selalu menawarkan hal baik. Panjang umur kepedulian."
