Sebuah narasi dari sudut pandang orang ketiga. Menceritakan dua petualang Ganenders yang hendak menggapai puncak Gunung Lawe Kabupaten Banjarnegara - Jawa Tengah. Bukan puncak yang mereka dapatkan, namun justru hal-hal lain yang dapat pembaca simpulkan sendiri secara bebas. Selamat menikmati dan semoga cerita ini dapat menjadi referensi kegiatan serupa atau memperkaya literatur dari aspek teknis maupun pola pikir. Salam lestari.
***
Pagi buta, bus malam melaju kebut membelah pantura dari Kota Pahlawan menuju Semarang. Tidak ada yang berbeda dengan perjalanan bus ini. Termasuk 2 petualang yang tengah tertidur pulas di kursi ketiga dari belakang.
Terlihat salah seorang diantaranya bernama Blekok, pria penikmat rokok dunhill ireng. Yap! Dia memang seorang penikmat, termasuk menikmati setiap kisah cinta meskipun hampir semua berujung hampa. Seorang yang lain di sebelahnya bernama Jompo, lebih suka menyebut dirinya “Penjelajah mimpi”, bermimpi lulus kuliah tanpa harus ngisi presensi. Dari teman seangkatan, dia dikategorikan “mahasiswa ngga niat kuliah” namun jangan tanyakan soal nilai IP tiap semesternya, dia jago mengisi form kuis atau ujian “asal” jangan mata kuliah Bahasa Inggris.
“Terboyo, terboyo, terakhir!!” teriakan kondektur kondang dengan sebiji pulpen di atas telinga kanannya, mengejutkan Jompo dan Blekok. Sontak Blekok berdiri dan berjalan menuju pintu belakang.
“Woyy jomp, Iki terminal opo pelabuhan?” teriak Blekok sesaat sebelum melompat keluar bus.
“Plak! plaak! plak!” suara sepatu Blekok menghantam genangan air di jalanan seolah menjawab pertanyaan yang dilontarkan sebelum turun. Jompo menyusul melompat lihai dari batu ke batu yang tak rapi, yahh.. sama tak rapinya dengan rencana tuan puan kami di jajaran tinggi yang katanya akan menyelesaikan masalah banjir saat kampanye di kota ini.
“Mas, tas e keri!!” panik Jompo yang baru teringat bahwa tas mereka masih berada di bagasi bus, sesaat sebelum riak genangan air yang membentuk ombak tupis di atas aspal akibat gerakan roda bus yang mengibaskan air itu menghilang.
“Woooyyy!! Woooyyyy” teriak Blekok, tanpa pikir panjang pria kekar dengan otot lengan cetar mengejar dan memberhentikan bus.
“Opo le?” tanya kondektur sinis bertopi coboy dengan segepok uang di tangan kirinya.
“Tasku keri pak, yopo seh samean ga ngandani!” adu si Ble dengan gaya logat bahasa Malang yang sedikit dilumasi ngapak.
Inilah suasana hangat saat baru tiba di Terminal Terboyo Semarang, sehangat adegan cekcok pria gondrong dengan kondektur bertopi coboy. Terminal dan jalanan tergenang banjir hampir selutut kaki, Namun semua terlihat baik-baik saja dan tak menghalangi warga untuk beraktifitas seperti biasa. Waktu masih menunjukkan pukul 5.15 WIB, kebul kenalpot angkot tua bersaing dengan asap kretek sopir dan empat lelaki dewasa yang membaur di samping halte bertuliskan “Dilarang Merokok” tidak sampai satu karvak dari ibu-ibu muda yang menggendong bayinya.
Semarang masih sama seperti tempo lalu yang terasa syahdu, tapi ada yang baru. “Bus Trans Semarang”, transportasi yang dikenal baru di kota itu juga menghiasi perjalanan mereka. Dengan modal KTM Politeknik Negeri Malang yang usang dimakan zaman, seribu perak di kantong dapat mengantar dua petualang ini melanjutkan perjalanannya ke halte Ngesrep sebelah patung Pangeran Diponegoro. Bukan tanpa sebab, mereka hendak menemui saudara jauh yang akan menjadi tour guide mereka. Sebut saja Kang Bolod, lelaki berambut panjang penunggu Posko Damai Wapalhi Politeknik Negeri Semarang.
Waktu berlalu, angan menyapu sore yang biaskan cahaya setengah senja di atas kubah masjid. Jompo memperhatikan tiap sudut halaman, buah mangga setengah matang melambai-lambai berikan isyarat untuk segera diganyang. Tak mau kalah kupu-kupu kuning mabuk kepayang oleh nektar bunga anggrek serat yang baru sehari mekar. Beberapa pemuda di warung depan pagar yang sedang asik menikmati jajanan di bangku miring sepuluh derajat mengikuti kontur jalan yang tak luput dari aspek sudut pandangannya.
“Ngga masuk akal” ucap pemuda yang senang menunggu momen Cak Boboat bercerita ini dalam benak pikirannya. Entah mengapa tiba-tiba Cak Boboat muncul sekelebat dalam lamunannya. Sambil menyeruput kopi Jompo mengingat-ingat bagaimana Cak Boboat bercerita mengenai keberaniannya melawan puluhan pasukan berangkot yang datang ke kampus untuk mengeroyoknya atau keberaniannya ketika memanjat salah satu jalur di Tebing Siung Yogyakarta tanpa pengaman / solo climbing, dan banyak lagi cerita dari Cak boboat tentang pengalaman anti mainstrem-nya yang muncul dalam lamunan Jompo.
“Jomp sini! aku duwe barang anyar” panggil Blekok sadarkan Jompo dari lamunannya mengenai sang Maestro, sembari memasukkan pakaian kedalam tas kecil berbahan kain parasut kedap air di dalam Posko.
“Apa itu mas?” tanya Jompo menoleh padanya.
“Sudah ngga jaman sekarang pakai kantong plastik sekali pakai, kita harus update pakai barang yang meminimalisir sampah, salah satunya dengan kantong baru yang kubeli online ini, menggantikan plastik trash bag seperti punyamu dan para pendaki millennials“ dengan bangga sambil tertawa cekikikan mengibas-ngibaskan tasnya ke udara.
“Ada juga tumbler dan tepak untuk bumbu-bumbu penyedap bekal kita nanti” lanjut pria yang biasa dipanggil mas ble dengan berganti nada sedikit ngece.
Jompo menjawab dengan kalimat logika realistis manusia modern abad 20-21 “trash bag kan murah mas, lagian kita orang yang sadar juga akan membuang sampah pada tempatnya”.
Secara spontan dengan nada tinggi yang terdengar hinggal UKM musik, Blekok menatap dalam-dalam mata adik yang pernah didiklatnya waktu masa pendidikan dasar “apa kamu bisa memastikan jika polimer yang kamu buang itu akan berakhir di tempat yang tepat? bukan di sungai, di laut dan dimana saja yang menyiksa pandangan atau lebih parahnya lagi mencekik flora dan fauna yang ada, ingat! kamu hanya orang yang membuang sampah ke tempat sampah tanpa memastikan mengolah sampah akan berakhir di mana!”.
Kang Bolod datang, pria yang pernah melanjutkan studi s1 di Institut Teknologi Sepuluh November membawa makanan dari warung emak no name, seketika menyudahi perbincangan mereka berdua.
Seusai magrib rencananya mereka akan berkeliling kota semarang. Jompo lebih tertarik mengajak Kang Bolod untuk bersilaturahmi ke beberapa sekretariat MAPALA Universitas di Semarang dan terakhir nangkring di tengah bundaran Tugu Muda depan Lawang Sewu. Sementara Blekok akan memanfaatkan momen kedatangannya di Semarang untuk bermadu kasih bersama rekan wanitanya.
Wanita tersebut adalah mahasiswa program Psikologi salah satu Universitas terkemuka di Semarang. Keduanya bertemu dan berkenalan beberapa bulan yang lalu pada tragedi bencana gempa dan tsunami di Palu, Sulawesi Tengah. Mereka menjadi relawan yang kebetulan bergabung satu tim. Ya itulah sajak kehidupan, semesta selalu mempunyai imbuhan kata, memoleskan kisah cerita biasa menjadi lebih romansa.
Larut malam tak dapat dihindari karena bumi akan selalu berotasi. Seperti kutipan lirik lagu karya Candra Malik yang berjudul Sabda Rindu “mengapa yang ku lihat dari perjumpaan hanyalah perpisahan”, itulah yang harus dialami oleh Blekok dan kekasihnya. Tak ada upacara ritual perpisahan, keduanya hanya saling mendoakan, berharap dengan keyakinan Tuhan akan kembali mempertemukan. Blekok kembali dengan kisah cintanya, Jompo kembali dengan kisah apa yang dilihatnya. Posko damai Wapalhi menjadi checkpoint mereka untuk beristirahat malam ini karena esok pagi Waktu Indonesia Mapala (WIM) mereka harus melanjutkan perjalanan menuju meeting point di Gunung Lawe, Banjarnegara.
Pada umumnya puncak adalah alasan mengapa aku harus memulai perjalanan, namun bisikan doamu sebelum kukemas ranselku selalu membuatku berhati-hati untuk sekedar berharap dapat kembali
~ Ujung Tanjung Muara Semayo, 18 Agustus 2016
Pagi itu ungaran hingga temanggung sudah mereka libas dengan kendaraan roda dua. Jompo berkendara sendiri sedangkan Blekok berboncengan dengan Kang Bolod. Di perbatasan wilayah menuju Wonosobo hujan lebat tak terelakkan. Jompo tiba-tiba kedinginan hebat, tepat di tengah azimuth gunung Sumbing dan Sindoro yang berpapasan. Mahasiswa yang akhir-akhir ini menyukai musik Indie tak pernah merasakan kedinginan seperti ini sebelumnya, bahkan ketika diterjang badai di Pos 3 Puncak Indrapura, Jambi pada Ekspedisi lalu yang juga bersama Blekok dan 3 rekan lainnya.
Walaupun tidak satu organisasi namun Kang Bolod memang senior yang paling mengerti. Dia mengajak istirahat di warung mie ongklok khas Wonosobo. Mie penggugah selera dengan kuah kental dan tambahan sate sapi terasa begitu nikmat di lidah Jompo, rasanya mengembalikan staminanya yang terkuras diterjang hujan. Sementara makanan ini sudah cukup akrab dengan lidah Blekok. Dia sering lalu-lalang di dataran tinggi Dieng. Singkat cerita, pria ngapak ini sebenarnya terlahir di Banjarnegara, namun ikut program transmigrasi bersama orang tuanya ke Jambi dan kemudian kembali lagi ke jawa untuk kuliah di Malang.
Lika-liku jalanan, Kabut tebal selepas hujan dan pemandangan petani sayur dengan pancaran senyum dibawah topi anyaman menjadi teman perjalanan membelah dataran tinggi Dieng. Menjelang surup aroma buah salak semerbak bersama angin yang berpapasan, suara merdu aliran air di kanan dan kiri kebun berduri menghilangkan kegundahan siapa saja yang merasakannya. Tibalah mereka di Banjarnegara, tepat di lereng Gunung Lawe desa Kendaga, kecamatan Banjarmangu.
Banjarnegara,
Tanah di mana hamba dilahirkan..
Air jernih mengalir disitu kulit ariku dibersihkan
Gunung Lawe tebing kuat dan kokoh menyaksikan betapa aku dimanja oleh eyang
Hingga membuat ayah dan pamanku iri akan hadirnya bayi mungil dan lucu primadona keluarga
Inginku kembali ke sana,
Bercerita kepada ayah layaknya aku sebagai seorang lelaki dewasa~ Subhan Purwo Aji
Pagi seusai sarapan jangan kangkung dan mendol tempe di rumah pamannya Blekok, Jompo mempersiapkan alat-alat instalasi rock climbing dan segera mengajak cabut menuju rumah Bapak Kepala Desa Kendaga. Meninggalkan sisa letek kopi di meja bundar bersama Kang Bolod dan Blekok yang masih berkebul lintingan khas Temanggung. kebetulan saat itu sedang musim buah salak, pas dengan aroma yang menyambut kedatangan mereka kemarin. Pak Kades menyuguhi salak segede gaban, ah tidak segitu juga sih, tapi jauh lebih besar dari umumnya salak desa Ampelgading - Malang ataupun yang paling terkenal salak pondoh dari Sleman.
Tak terasa sudah berjam-jam mereka duduk di ruang tamu dengan puluhan biji salak yang menemani obrolan ngalor-ngidul ketiga pemuda dan Pak Kades. Hingga adzan dhuhur menyudahi obrolan sekaligus mengawali perjalanan mereka.
Seusai sholat di gubuk kecil peristirahatan petani, mereka melipiri jalan setapak kebun salak. Sesekali mengambil beberapa buah salak yang jatuh dari pohonnya.
“Ambil aja salaknya le, iku wes gak payu”. Ucap pria paruh baya yang tiba-tiba muncul di seberang kali. Bapak itu adalah salah satu petani buah salak di kebun yang membentang mengikuti kontur gunung lawe. Setelah menikmati beberapa buah salak, mereka melanjutkan perjalanan. Beberapa buah salak pun tak lupa mereka angkut ke dalam tas sebagai bekal perjalanan.
Mentari bersinar cerah diimbangi angin dingin pegunungan yang menghembus menuju roma. Kabut tebal seolah menjadi payung penghalang di puncak tebing, melindungi siapa saja yang memandang. Jompo dan Kang Bolod merapikan alat-alat yang digantung diantara dua pohon dan mendirikan flaying camp sebagai tempat berlindung bila sewaktu-waktu turun hujan, sementara Blekok sedang melakukan gerakan pemanasan sembari memasang harness pada tubuhnya.
Blekok, pria yang baru resign dari tempat kerjanya karena urusan asmara akan menuangkan segala keresahan hatinya pada tiap celah dan rekahan tebing andesit sebagai leader. Jompo memilih sebagai cleaner sementara Kang Bolod sedikit melipir mengabadikan setiap moment dengan kamera DLSR hitam miliknya.
“Semoga alam berpihak pada kita, avig nam astu” teriakan doa pada Sang Pencipta dari ketiga pengembara yang berdiri melingkar di atas bumi.
“Belay on! Blekok berikan isyarat kode pada Jompo atas kesiapannya memulai pemanjatan.
“Oyi, on belay mas!” jawab Jompo dengan sigap mengulurkan tali karmantel yang terhubung dengan Blekok.
“Klik, Klik “Satu per satu pengaman berhasil di pasangan, pelan tapi pasti Blekok menjaga keseimbangannya di jalur scrambling dengan kemiringan tidak sampai 90 derajat. Tak ada pegangan semacam jug, hanya ada sedikit retakan tebing yang membentuk garis lubang. Jalur menuju pitch.1 basah karena ini adalah jalur air hujan, lumut-lumut tipis tumbuh subur menjadi hiasan yang semakin menambah licin tebing ini.
Tanpa bicara sedikitpun Blekok berhasil tiba di belokan separuh pitch.1 untuk memasang tali rescue. Separuh bagian jalur menuju pitch.1 selanjutnya adalah melipir ke samping. Dari bawah jalur ini terlihat mudah, namun tak disangka jalur ini adalah crowakan yang mengalirkan air deras sisa hujan tadi malam. Bukan Blekok namanya jika harus gentar dari tantangan ini. Dia terus menikmati tiap tantangan tanpa sedikitpun rasa takut dalam hatinya.
“Aaaaaa!!!!” teriak Blekok yang jatuh terpeleset mengagetkan Jompo dan Kang Bolod.
“Aman tah mas?” tanya jompo yang berteriak dari bawah, memastikan kondisi Blekok.
“Gak popo tah ble?” Kang Bolod juga tak mau tinggal diam.
“Aman!, santai sek, jalane licin” jawab Blekok dengan tenangnya berikan kabar pada mereka yang dibawah. “On Jomp!” lanjutnya dengan memegang point open untuk berusaha kembali ke jalur melanjutkan pemanjatan sembari mengkode Kang Bolod agar tidak lupa mengabadikan momen dengan kamera yang diselempangnya.
Jompo hanya terdiam dengan tidak mengurangi kewaspadaannya sebagai belayer. Pikirannya hanya bisa menerka-nerka tentang keindahan dari sebuah keberanian. Ia kagum melihat Blekok menikmati pemanjatannya dengan gagah dan berani. Tak bisa dibayangkan olehnya jika seandainya dia yang bertugas sebagai leader.
Sebenarnya Blekok tak seberani itu, ada sedikit rasa takut dalam dirinya. Namun inilah caranya bersyukur kepada Tuhan atas pemberian kekuatan dan kesehatan yang tidak boleh disia-siakan.
Sesekali kabut turun menutupi separuh gunung hingga puncak, namun itu tak bertahan lama karena setelahnya angin berhembus kencang mengusir kabut-kabut dari pandangan para petualang yang senantiasa berlindung dengan doa. Akhirnya Blekok tiba pada pitch.1. Segera dipasangnya instalasi pengaman untuk bergantian menjadi belayer dari Jompo yang akan menyusul.
“Wes siap tah mas?” teriak Jompo memastikan kesiapan instalasi yang di pasang Blekok.
“Wes Jomp, ayo munggaho, Ati-ati jalane licin” sambung Blekok dari atas pitch.1 memberikan aba-aba pada Jompo.
“On belay mas!!!” teriaknya pada Blekok, “mas ojok lali fotonya yang bagus” lanjut Jompo berbisik merayu Kang Bolod untuk memfoto setiap aksi-aksinya.
Jompo memulai pemanjatan, baru sampai hanger pertama dia sudah terjatuh hingga badannya terlentang, namun dengan mudah dia kembali dan melanjutkan pemanjatan. Ada yang aneh sebenarnya. Tak seperti biasa, Jompo nampak ketakutan. Hal itu sangat terlihat jelas dari kakinya yang gemetar. Hampir di semua hanger dia harus pasang cowstail dan bertumpu pada quick draw untuk menambah ketinggian. Pemanjatannya berubah drastis seperti pemula yang baru kemarin sore mencicipi Panjat Tebing.
“Aleh Jomp!!! Tutuk duwur tak foto, viewne apik” teriak Kang Bolod memberikan semangat dari bawah. Pria yang memiliki rambut lebih panjang dari Blekok ini seperti menyadari apa yang Jompo rasakan.
“Biasa ae Jomp, jalur gampang ngene” susul pria gondrong sebahu, Blekok juga memberikan semangatnya dengan kata-kata yang merendahkan Jompo seperti kebiasaan ketika latihan. Blekok sadar betul sebenarnya kemampuan Jompo diatasnya dalam hal memanjat. Namun, entah mengapa kali ini sepertinya mental keberaniannya terganggu.
“Haaaahhhhh!!!” Jompo berteriak sekencang-kencangnya. Mungkin ini dilakukan untuk melepas segala ketakutan yang membelenggu jiwanya. Sedikit demi sedikit dengan termenggap-menggap akhirnya dia sampai di pitch.1, disebelah Blekok. Mukanya sedikit pucat, namun dia terus berusaha menyembunyikan ketakutannya.
Mereka berdua mengatur ulang instalasi pengaman untuk beristirahat dan segera melanjutkan perjalanan menuju pitch.2. Terdapat 4 hanger pengaman di pitch.1 dengan teras selebar satu meter. Cukup untuk digunakan dua orang beristirahat.
Jompo masih sibuk dengan pengamannya, bersiap-siap dia kembali akan menjadi belayer dari sang leader, yaitu Blekok yang akan melanjutkan pemanjatan menuju pitch.2. Jompo sangat mengerti bagaimana posisi belayer akan menentukan tingkat resiko keamanan bagi pemanjat dari sistem pemanjatan multi pitch seperti ini.
“Belay on..!” kembali terucap dari Blekok tanpa sedikit rasa gugup.
“On Belay..!” sambung Jompo sembari mengulur-ulur tali yang terhubung dengan sang leader.
Jalur menuju pitch.2 hampir menyerupai jalur sport dengan grade 5.11b. Kemiringan jalur di seperempat bagian di ujung pitch berbentuk overhang 10 derajat. Wajar beberapa kali Blekok harus gagal melewatinya dan kembali mencoba beberapa kali. Angin kencang yang berhembus di sela-sela tebing menerpa sisa rambut yang keluar dari helm, seolah selalu berikan energi semangat bagi sang leader, Blekok.
“Pull !!!, istirahat sek Jomp” teriaknya kebawah.
“Ok mas” dengan cekatan Jompo menarik tali hingga tegang sesuai isyarat Blekok, agar sang leader dapat istirahat bergelantungan.
“Aleh aleh Ble!!!” Kang Bolod berikan semangat dari bawah sembari melakukan beberapa kali jepretan kamera.
Blekok menerjang tebing agar dapat mengayun dan menjangkau tebing. Tanpa isyarat kata ia kembali melanjutkan pemenjatannya. Jompo mengerti betul apa yang harus dia lakukan untuk tetap siap siaga membantu mengamankan sang leader dengan menarik-ulur tali karmantel sesuai kebutuhan sang leader.
“Ah…..!!! Aleh…!!!” ciri khas teriakan Blekok keluar untuk mengepush limit kekuatan yang membawanya tembus menuju pitch.2. Setelah berhasil berada di teras pitch.2 dengan sigap ia memasang pengaman.
“Haahhhhhh…!!!” teriaknya lagi lebih lega sebagai apresiasi keberhasilan. Tanpa membuang-buang waktu di siapkannya instalasi pengaman untuk melakukan belaying pada Jompo yang akan menyusul menuju pitch.2.
Jompo mempersiapkan diri, raut wajahnya nampak lebih segar. Melihat aksi heroik sang leader yang menjadi semacam energi baru untuk mengembalikan nyalinya yang sempat tertinggal. Hingga akhirnya:
“Klontang.. Klontang.. Klontang… bleekkk" Semua menjadi tercengang. Kang Bolod yang sedang asik jeprat-jepret mengabadikan momen Jompo dan Blekok tiba-tiba terkejut mendengar suara salah satu alat descender yaitu figure of eight terjatuh tepat di samping kirinya. Itu adalah alat yang digunakan Jompo, terjatuh dari cantolan carabinernya setelah selesai digunakan.
Langit mendadak kelabu. Kabut mengepul berarak-arakan menyelimuti sukma, mengangkat seluruh nyali hingga hilang dari jangkauan. Jompo masih terdiam, mendekap erat tali pengaman di depannya. Badannya bergetar dengan keringat dingin membanjiri seluruh tubuhnya. Tak ada yang bisa dia lakukan sekarang selain menyesali kecerobohannya.
“Tenang Jomp! Aku bawa dua descender, ayo siap-siap aku mau turun dan kamu ngga usah naik! takut keburu hujan” ucap sang leader sambil membuat simpul lepas dengan tali statis yang dibawanya. Perlahan tapi pasti dia turun sekaligus mencopot semua quickdraw yang terpasang di hanger sepanjang lajur menuju pitch.2. Tak sampai lima menit Blekok sudah tiba di pitc.1, disebelah Jompo. Simpul lepas berhasil dilepas dan jalur pitc.2 sudah clean.
Jompo masih terdiam kaku, sesekali dia menjawab sepatah dua patah kata menanggapi Blekok yang memberikan instruksi. Dia begitu terpukul, menyesali kecerobohannya telah menjatuhkan alat yang secara esensi menjadi pelindung nyawanya selama di atas tebing. Blekok juga tak mau banyak memberikan motivasi lewat kata-kata. Dipukulnya helm adiknya itu dengan kencang sembari menyuruhnya tetap fokus dan segera turun. Jompo kaget dan mulai sadar, ia meminta maaf kepada seniornya yang dibalas dengan senyum oleh sang leader.
Awan mendung pekat bersanding gumpalan kabut yang semakin dekat di atas kepala mereka. Kang bolod berikan isyarat pada keduanya untuk segera turun. Benar saja, tetesan air sedikit semi sedikit berjatuhan mengenai wajah kedua petualang ini. Jompo turun terlebih dahulu melalui tali rescue yang sudah disiapkan oleh Blekok.
Sesampainya Jompo di bawah dengan cekatan Blekok segera menyusul turun. Namun Blekok harus turun mengikuti jalur pemanjatan untuk melepas semua quickdraw dari hanger pengaman hingga tak ada lagi alat yang tertinggal. Beberapa kali dia terpeleset dan jatuh membentur tebing. Luka lebam di sekitar lutut dan lengannya tak terelakkan sebagai tanda hadiah dari semangatnya yang tak pudar.
Ketika Blekok sudah tiba di bawah, seketika itu hujan deras mengguyur. Blekok dan Jompo lari menuju flying camp menyusul Kang Bolod yang ternyata sudah standby di dalamnya. Bersyukur hari ini Tuhan memberikan kesempatan mereka untuk sampai di bawah dengan selamat. Sujud syukur tak lupa mereka pesembahkan kepada Sang Pencipta atas segala sesuatu yang telah Dia berikan di setiap langkah petualangan mereka, walau itu bukanlah sebuah puncak tebing.
Berani lah maka kau akan berubah, peliharalah sedikit ketakutanmu untuk menjagamu dalam kondisi waspada
~ Kean Wisnu Dewa




