1. Gunung Rimba yang Dapat Mengalahkan Musuh Terbesar

Mungkin sudah menjadi hal yang biasa ketika kita memutuskan untuk bergabung dengan Organisasi Pecinta Alam, maka pasti bersinggungan dengan Gunung Rimba atau Gunung Hutan. Pendakian Gunung sudah menjadi hal yang sangat melekat pada diri seorang Pecinta Alam dan dapat dikatakan kegiatan Pendakian Gunung ini menjadi dasar kegiatan dari Pecinta Alam di Indonesia. Dengan seringnya melakukan kegiatan pendakian, walaupun hanya dengan tujuan yang menurut sebagian orang itu tidak penting, tanpa kita sadari akan muncul beberapa sifat baik yang tumbuh pada seorang Pendaki melalui apa saja yang mereka temukan dan lalukan di setiap pendakian. Bahkan ada pepatah mengatakan bahwa, "Puncak adalah bonus, dan yang terpenting dalam sebuah pendakian adalah kekuatan yang didapatkan selama proses perjalanan”. 

Untuk mencapai tujuan perjalanannya, para pendaki harus menghabisakan waktu berhari-hari untuk berjalan melewati punggungan dan lembah. Tidak bisa di pungkiri juga terkadang pendaki harus melawan kerasnya alam yang tidak bersahabat. Seorang pendaki sangat paham betul arti kerja keras. Mereka sangat menghargai perjuangan walaupun hanya sekecil satu langkah kaki. Di dalam nuraninya selalu berteriak “satu langkah lagi dan satu langkah lagi”, hingga mereka tidak sadar telah melangkahkan kaki sebanyak pohon di perjananan, yang akan mengantarkannya menuju puncak. 

Seorang pendaki juga dikenal sebagai orang yang tidak mudah menyerah menghadapi tantangan dalam kehidupan. Mereka telah berulang kali berhasil mengalahkan musuh terbesar mereka, yaitu dirinya sendiri. Jadi tak ayal jika mereka merasa bisa dan bisa itu bukan karena mereka sombong, tetapi karena mereka yakin dengan perjuangan dan kesabaran yang melalui proses kecil secara terus-menerus, mereka dapat menyelesaikan permasalahannya dengan baik.

2. Rock Climbing yang Membuat Perhitungan Secara Matang


Dokumentasi Ekspedisi NIA Angkatan 26 OPA Ganendra Giri 2016

Kegiatan Organisasi Pecinta Alam berfokus pada bidang Rekreasi, Olahraga, Konservasi, Sosial dan Religi. Salah satu fokus olahraga dalam pecinta alam yaitu Rock Climbing (Panjat Tebing). Dalam Panjat Tebing seorang climber dipaksa harus melewati beberapa model pegangan dan pijakan bentuk tebing yang tertata secara alami oleh alam untuk mencapai tujuan akhir pemanjatan yaitu TOP. 

Untuk dapat melalui beberapa rintangan, dibutuhkan pemikiran yang matang dalam proses orientasi medan dan setiap gerakan yang akan dilakukan, agar dapat mencapai TOP dengan cara semudah mungkin. Kebiasaan dalam pemanjatan seperti itu secara tanpa disadari akan melekat pada seorang climber dalam mengahadapi kehidupannya. Itulah mengapa seorang climber selalu memperhitungkan dengan matang prosesnya dengan step by step untuk menyelesaikan target tugasnya. Mereka juga sangat memaknai betul tentang masalah target ketercapaian. Mereka akan terus mencoba dan mencoba dengan berbagai macam cara untuk mencapainya walaupun sering kali gagal dalam perjalanan.

3. Caving yang Terbiasa di Posisi Paling Rendah


Dokumentasi Ekspedisi NIA Caving Angkatan 26 OPA Genendra Giri 2016

Dalam kegiatan di alam bebas, tidak sah jika seorang Pecinta Alam hanya membahas tentang kegiatan-kegiatan di ketinggian dan di atas permukaan tanah, atau bahkan di atas awan. Sangat perlu juga seorang Pecinta Alam mengetahui kondisi bumi di bawah permukaan tanah, mulai dari vegetasi hingga makhluk hidup yang tinggal di dalamnya. Mereka biasa melakukan penelusuran gua dan merasakan dinginnya aliran air sungai di kegelapan abadi di dalamnya. Mereka menelusuri gua dengan bertaruh nyawa bersama semakin tipisnya kadar oksigen, hingga terdiam menyapa kalelawar. Semua itu telah mereka rasakan. Mereka telah merasakan bagaimana kondisi paling bawah sekalipun. Mereka sadar mereka bukan apa-apa, mereka hanya manusia yang tidaklah lebih dari manusia lain. Maka dari itu mereka terbiasa untuk sederhana dan penuh syukur atas keadaan apa saja yang mereka rasakan, termasuk karunia terindah dari Tuhan yang tidak semua orang dapat rasakan, yaitu berada dalam keindahan kegelapan abadi.

4. Olahraga Arus Deras yang Dipaksa Bertindak Cepat dan Tepat


Dokumentasi Aplikasi ORAD Brantas 2015 OPA Ganendra Giri 

Olahraga arus deras atau biasa disingkat ORAD adalah olahraga paling bahaya kedua di dunia setelah paralayang yang menggunakan motor. Tidak jarang, banyak sekali korban berjatuhan akibat melakukan kegiatan ini. Kecelakaan yang terjadi biasanya didominasi karena rasa panik atau kurangnya pengetahuan dari orang yang bersangkutan. Dalam olahraga arus deras, syarat utama adalah mereka harus dapat menyelamatkan diri sendiri. Kemudian mereka boleh menyelamatkan peralatan, dan terakhir adalah menyelamatkan rekan (orang lain). Hal tersebut tidak dapat terelakkan lagi. Mereka terbiasa membaca situasi mana yang harus dapat diprioritaskan. Sedikit saja salah perhitungan, bisa saja kemungkinan besar nyawa akan melayang. 

Tak ayal, ketika menjalani kehidupan mereka selalu terbiasa berpikir cepat dan tepat oleh kebiasaan mereka yang dipaksa begitu ketika menghadapi arus deras. Mereka tidak pernah mengabaikan hal sepele apapun. Semua hal mereka anggap penting dan tidak boleh diabaikan, kerena setiap permasalahan mereka harus tahu betul mana yang harus diprioritaskan.

5. Konservasi sebagai Pondasi Jiwa Pecinta Alam


Anggota Pecinta Alam tentu saja juga seorang konservator. Dilihat dari tujuan dan nama “Pecinta Alam”, jelas seorang Pecinta Alam adalah orang yang mencintai alam. Di benaknya terdapat sebuah pemikiran bahwa mulai dari orang sekitar, negara, dan semesta (Alam dan Tuhan) adalah unsur terpenting dalam hidupnya. Maka dari itu, untuk dapat mencintai sesuatu haruslah benar-benar mengenal objeknya. Dan untuk mengenal dengan dekat dan sehat haruslah mengenalnya secara dekat. Jadi tak jarang, mereka senang berpetualang dan berjalan menuju tempat-tempat di sekitar negaranya untuk benar-benar mengenalnya. 

Dilihat dari kebiasaan dan perasaannya yang telah nyaman bersama alamnya, seorang konservator jelas bukanlah pasangan yang baik. Mereka sibuk dengan apa yang mereka cintai, yaitu alam, sehingga tidak punya banyak waktu untuk sekedar memikirkanmu. Mereka terlalu acuh tak acuh untuk meluangkan waktunya untukmu, karena dia lebih nyaman bersama dunianya sendiri. Tetapi janganlah berfikir sampai situ saja, mereka sangat mencintai alamnya dan nyaman bersamanya ketika mereka mulai mencintai seorang yang akan dijadikannya sebagai pasangan. Sungguh bukanlah cinta yang main-main, karena di saat dia mencintaimu maka sungguh beruntunglah dirimu dan karena jelas apa yang dia cintai selain alam pastinya sesuatu yang benar-benar sangat istimewa dalam hidupnya. Selain itu pula terdapat alasan lain mengapa dia ingin sekali menjaga alamnya, yaitu mereka ingin anak cucunya kelak dapat menikmati keindahan yang sama dengan yang dia nikmati saat ini bersamamu.

Note :

  • Pepatah = peribahasa yang mengandung nasihat atau anjuran
  • Climber = orang yang melakukan panjat tebing
  • TOP = tujuan akhir pemanjatan; penentu keberhasilan; target
  • Caving = kegiatan penelusuran gua
  • Caver = orang yang melakukan penelusuran gua
  • Konservator = orang yang melakukan upaya pelestarian lingkungan